Tuesday, October 2, 2012

Sedikit Tentang Kita

Maaf, aku nggak bisa menyimpan semuanya sendirian. Maka,aku cerita ke beberapa teman dekat. minta pendapat. Mereka bilang, aku harus menuntut kejelasan dari kamu. Sebenernya, kita ini apa dan bagaimana. Tapi, kamu tahu 'kan, aku tidak mau. Dan tidak pernah mau. Karena aku takut kehilangan kamu. Takut sekali.

Karena itu, aku lebih memilih untuk mengabaikan nasihat mereka. Bukannya semua nasihat itu tidak lantas mesti aku telan bulat-bulat kan? Aku diam. Dan akhirnya aku kembali menyimpan semuanya sendiri. Ini tentang kita. Tapi, entah kenapa hanya aku yang merasa menderita.

sr

Wednesday, June 20, 2012

Ramai




Aku menjauh dari kerumunan itu. Kerumunan yang membuatku muak. Meski aku tidak secara lugas menyatakan kalau aku suka Kak Bagas, seniorku di klub orchestra.

Ya, hari ini hari ke-3 aku di Jogja. Ada kejuaraan orkestra di sini. Setelah dua hari kemarin kami sibuk berkompetisi, sekarang pelatih kami mengijinkan kami refreshing sejenak ke sini, ke Maliboro. Heran aku. Apa sih yang bisa kami dapat dengan refreshing ke sini? Aku sudah hapal setiap titik toko di jejeran jalan Malioboro ini. Di mana warteg, di mana Mirota, di mana restoran A & W. aku benci ramai yang terlalu ramai. Apalagi matahari dengan gagahnya bersinan, ah terlalu gagah malah. Belum lagi copet atau mas-mas iseng yang biasa suka menggoda kami, cewek-cewek kota. Aku meruntuk kesal dalam hati kepada pelatihku. Kenapa tidak ke Parang Tritis saja?

Kembali ke soal Kak Bagas. Jadi begini, aku sudah lama suka dia. Mungkin sejak pertama kami bertemu. Sejak pertama kali aku bergabung di klub itu. Aku suka pembawaannya yang pendiam dan kalem. Gak pecicilan kayak Kak Rino atau Kak Kus. Kak Bagas juga baik. Kebetulan kami sama-sama bermain di alat music flute. Kak Bagas sangat sabar mengajarkan aku yang saat itu sungguh masih buta membaca not balok dan meniup flute. Aku pikir meniup flute itu gak jauh beda dengan cara meniup rekorder. Ternyata aku salah besar. Meniup flute dibutuhkan otot bibir yang cukup kuat untuk menggetarkan bibir. Nah getaran bibir ini yang menghantarkan volume angin untuk membunyikan flute. Untuk hal-hal teknis semacam itu, tentu pengetahuan Kak Bagas berusia di atas aku. Dia 3 tahun lebih tua dari aku. Waktu yang cukup untuk bisa memahami teknik dasar meniup flute. Terlepas dari dia baik dan pintar soal flute dan tetek bengeknya, pokoknya aku suka dia. Titik. Hehehehe.

Kali ini dia sedang dikerumuni oleh junior-junior baru di klub kami. Tentu saja junior yang aku maksud di sini adalah sekumpulan cewek SMP genit dan korban drama Korea. Si ini meminta diantar beli gelang, si itu merengek minta ditemani ke outlet dagadu, ah ruwet deh. Denger suara mereka yang ceriwis saja sudah cukup buat aku muak. Maka, aku pergi sejauh-jauhnya. Karena aku juga gak bisa mengaku begitu saja kalau aku sebenarnya suka sama Kak Bagas. Phew! Gengsi.

Aku sudah berhasil menjauh dari geng ceriwis itu. Aku sekarang di dalam sebuah restoran fastfood dengan logo huruf M. Beuh, jauh-jauh ke Jogja kok ya makan ini lagi ujung-ujungnya. Yah, kata Ibu makan di lesehan itu malah jauh lebih mahal, itu makanya aku makan di sini saja, yang pasti-pasti saja. Gak ditembak harganya.

Saat sedang asyik makan, tiba-tiba aku dapat sms dari Katya, teman pemain biolaku.

Kamu dmn la?aku sama arsi di kfc nih

Aku segera mengetik pesan balasan lalu mengirimkannya.

Di mekdi nih,sendiri. kamu ke sini aja deh mendingan

Begitu isi smsku. Tak lama, Katya membalas lagi.

Kamu aja yang kesini. Aku lagi mata-matain anak2 centil nih, huahahaha. Seru deh

Grrr emang suka asal nih si Katya. Bukannya nemenin aku malah ngerjain aku. Pada akhirnya aku toh beranjak juga gari restoran itu beralih ke restoran junkfood yang lainnya. Setibanya di restoran fastfood yang ternyata sangat ramai itu, aku melihat genk cewek centil itu duduk bersama Kak Bagas dan Kak Rino. Aku semakin muak. Aku langsung menghampiri Katya dan Arsi.

“Penting banget ya kita di sini? Cabut yuk, belanja apa kek gitu” omelku.

Katya danArsi gak peduli. Mereka masih asyik mengunyah makanan mereka. Uh, cekikikan mereka itu ganggu banget deh. Kok Kak Bagas gak marah sih? Eh, emang Kak Bagas orangnya baik sih. Jadi kayaknya gak mungkin dia marah.

Lagi nikmat-nikmatnya memandangi Kak Bagas tiba-tiba Kak Bagas beringsut dari tempat duduknya, menuju pintu resto itu  sambil sibuk dengan hpnya. Aku mengikuti langkahnya dengan mataku. Tak berapa lama, sosoknya muncul lagi dari balik pintu. Tapi kali ini dia membawa seorang perempuan. Cantik kali maaakkk!

Perempuan itu dibawanya ke mejanya lalu dikenalkan ke genk centill dan Kak Rino.

“Ayo kenalan, Ini Rani, calon istri saya” katanya tersenyum.

Meskipun aku duduk agak jauh dari mereka. Aku bisa mendengar cukup jelas apa yang barusan Kak Bagas ucapkan. Tanpa sadar air mataku menitik. Arsi dan Katya mematung melongo memandangku yang kesusahan menahan sesak.

Monday, June 18, 2012

Biru, Jatuh Hati



Juni 2000

Sekarang gue lagi ada di Pantai Pangandaran. Perpisahan dengan teman-teman sekelas di SMA. Gak pernah ngerti ya kenapa harus ada acara perpisahan segala. Padahal beberapa di antara kami jelas bahkan ada yang akan satu kampus lagi nantinya. Eh tapi gue agak seneng sih. Soalnya dengan adanya perpisahan ini mengingatkan gue akan berpisah juga dengan Aria, rival bebuyutan gue dari jaman kelas satu dulu.

Dia itu cowok paling sengak yang pernah gue kenal. Pinter sih. Tapi belagunya itu loh, gak nahan deh. Setiap kali ada tugas, itu anak selalu jadi pengkhianat di antara temen-temen sekelas. Seringnya sih ngaku belom ngerjain, padahal udah terkumpul rapi paling duluan langsung di meja guru. Gila kan? Apa namanya kalo bukan makan temen? Setiap ujian juga dia selalu ngelak diminta contekan. Atas nama pergaulan, dia gak asik banget kan?

Sedangkan gue? Gue beda banget sama dia. Siapa sih anak sekolah ini yang gak kenal sama gue? Tentu saja bukan karena gue artis. Tapi karena gw ramah dan asik. Gak kayak Aria, pelit tapi sombong. Huh. Heran gue masih aja ada orang yang mau temenan sama orang kayak dia. Well, di samping dia yang pelit ilmu begitu sih sikapnya emang baik. Kadang dia suka traktir beberapa anak-anak kelas. Entah karena apa, waktu gue Tanya begitu, dia Cuma jawab “gak perlu ada event khusus kan kalo mau berbuat baik?” issshhh sok bijak banget gak tuh?

Dan itu cowok sekarang ada di hadapan gue. Berdiri sambil membawa sebuah kelapa muda siap minum lengkap dengan sedotannya.

“Biru! Nih buat lo. Ngapain malah ngelamun sendirian di sini? Gak takut sama ratu pantai selatan?” candanya. Yap, dia memanggil gue dengan julukan itu, Biru,  lantaran warna kacamata gue yang gak pernah berubah sejak kelas satu dulu.

“Dari siapa nih kelapanya?” Tanya gue yang sangat tidak penting.

“Udah minum aja lah jangan banyak Tanya. Masih untung gue bawain.”

“Bukan gitu dodol, kali aja kan lo mau ngeracunin gue atau apa. Di sini kan sepi. Pas gue mati, lo bisa aja kan tinggal lempar gue ke laut?” kata gue sewot.

“Hahahahaha dasar gila lo!” Aria Cuma tertawa sambil gelen-geleng kepala. Mungkin dia heran ada orang yang otaknya negative terus kayak gue. Hem, entahlah.

Gue emang tolol sih udah berprasangka buruk sama dia. Padahal gue tau dia gak maksud gitu. Tapi ya gimana, gue udah terlanjur benci sama dia. Jadinya, semua apa yang dia lakukan ke gue tetep aja gue pandang jelek.

***

Juni 2012

Aku masih dijuluki Biru olehnya. Tentu saja bukan Biru yang dulu. Aku sekarang tumbuh menjadi wanita dewasa yang ber-attitude. Aku ga pernah lagi meremehkan orang lain. Semua masalah selalu coba aku lihat dari berbagai sisi. Aku bukan Biru yang manja. Aku bukan Biru yang kekanak-kanakan lagi. Seseorang telah mengajarkan aku untuk hidup lebih baik lagi.Ya, dia Aria. Si baik hati yang dahulu selalu aku benci karena sikapnya yang tengil dan pelit contekan. Menginjak usia matang, aku baru tersadar kalau apa yang dulu ia lakukan padaku itu semata-mata demi kebaikanku.

“Sejak dulu aku mencintaimu, Biru. Aku tidak pernah membencimu dan tidak pernah berharap suatu saat kamu membalas cintaku. Karena aku tau kita pasti akan bersama. Aku meminta pada Tuhan bahwa hanya kau yang ingin aku nikahi kelak. Dan sekarang, Biru, kau tau kan Tuhan sungguh baik pada kita” itu ucapnya saat kami berjalan bergandengan di bibir pantai menikmati bulan madu kita. Aku yang dulu begitu membencinya kini berbalik hati mencintainnya. Sangat mencintainya. Aku si Biru, jatuh hati pada Aria.