Wednesday, August 11, 2010

Social Network

Sekilas membaca timeline di twitter perasaan saya campur aduk antara kesal, kecewa, marah, dan pecundang. Saya jadi malas. Apakah perlu twitter saya tinggalkan seperti halnya saya melupakan friendster dan menelantarkan facebook?

Twitter tidak senyaman dulu. Khususnya bagi saya. Terlalu sering sakit hati dan kecewa tentu tidak baik bagi perkembangan otak saya *lho?*

Tinggal menunggu waktu. Berhenti, deaktivasi, atau unfollow.

Salah Kostum

Sejak 2 hari lalu, tahun ajaran baru di kampus saya telah dimulai. Berbagai ospek baik yang resmi atau semi ilegal digelar. Nah, kebetulan saya menjadi panitia menjabat di divisi komdis dalam ospek jurusan.

Ada ketentuan khusus dalam mengikuti ospek ini. Di mana cara-cara konvensional masih diterapkan, seperti ; nametag aneh, topi aneh, barang bawaan berupa teka-teki kata. Tradisi minta tanda tangan senior juga masih bertahan.

Senior yang baru kelar sidang tugas akhir ikut-ikutan bikin rusuh *padahal gak diajak*

Namun, ada 1 tradisi yang bikin saya sedikit males ke mana-mana di kampus. Setiap mahasiswa baru (maba), selama seminggu wajib memakai pakaiam seragam atasan putih dan bawahan hitam. Nah, masalahnya adalah : saya hari ini pakai baju tersebut *tanpa sadar*

Saya baru ngeh bahwa saya tidak seharusnya pakai seragam itu di minggu ini ketika ada 1 maba yang menyapa saya

"eh, lo konstruksi gedung atau konstruksi sipil?"

Saya, mahasiswi tingkat akhir yang kaget mendapat pertanyaan seperti itu, cuma bilang "apaan sih maksud lo?" *polos*

Mungkin, karena mendapat respon aneh tersebut, si maba tersebut langsung melengos pergi meninggalkan saya. Sedangkan saya sendiri cuek melenggang menuju kelas sambil sibuk membodoh-bodohi diri lantaran salah kostum.

Sampai di kelas, saya langsung 'pamer' kalau saya saltum. (bahkan pas ketemu orang yang saya kenal di koridor kampus, saya sesumbar "eh, masa' tadi gw dikira maba!ih, dodol banget !" <--- saking gak ada yang bisa dibanggain

Seusai mata kuliah pertama di hari itu, adik kelas tingkat 2 datang untuk memperkenalkan adik kelas tingkat 1 kepada mahasiswa/i di kelas saya *tingkat 3* dan jeng!jeng!ternyata ada maba yang tadi nyapa saya dan mengira saya maba juga. Saya rasa dia malu, bahwa ternyata perempuan anggun bak bidadari yang tadi pagi bertemunya ternyata kakak kelasnya. HAHAHAHA. Rasakan!

Seru juga sih sukses mengelabuhi maba. Sukses juga dikira maba. *selain karena wajah saya memang bebifes*

Pesan buat maba : besok-besok, minta tunjukin kartu identitas kepada siapapun yang kamu tanya. Sekalipun dia pakai seragam seperti kamu, bukan berarti dia berasal dari kaummu.

Sekian,
salam ketawa-ketiwi

Thursday, July 29, 2010

Pemindahan Ibukota Negara

mungkin beberapa dari anda terkaget-kaget membaca judul di atas. begitu pun reaksi saya ketika beberapa waktu lalu mendengar opini seorang pejabat (yang saya lupa namanya) di radio. opini tersebut berisi anjuran bahwa ibukota negara tercinta yaitu jakarta sebaiknya dipindah ke luar pulau jawa. nah, menurut beliau jakarta sudah terlalu banyak "beban". pulau kalimantan menjadi sasaran utama.

Kenapa harus pulau kalimantan?

menurut info yang saya baca di beberapa media, pulau kalimantan cenderung bebas gempa dan tsunami. itu sebabnya, ibukota negara kita berencana dipindah ke sana. selain itu, mengulik kembali keinginan bung karno pada jaman dahulu yang mengusulkan untuk memindahkan ibukota negara ke kota palangkaraya, tepatnya.

(lagi-lagi) menurut info yang saya baca, (hehehehe) kantor-kantor kementrian yang sekarang bertempat di jakarta juga akan disebar ke beberapa pulau besar di indonesia. sehingga, jakarta nantinya diharapkan hanya akan menjadi tempat lalu-lintas perdagangan.

Mengapa opini ini sampai tercetus?

beberapa negara berkembang di asia telah melakukan langkah ini dan terbukti dapat mengurangi kemacetan. Busway, setelah selama ini, tidak terlalu membawa pengaruh berarti dalam hal "kemacetan". Di negara lain yang berbusway, jalur bus tidak memakan jalur yang sebelumnya telah ada, namun membuat jalur baru. Tidak demikian halnya dengan jakarta, sehingga masih banyak pengguna jalan selain transjakarta yang menggunakan jalur bus.

Ada opsi kedua apabila opsi pertama, yaitu pemindahan ibukota negara, tidak memungkinkan. Yaitu, pemerintah harus dengan tegas membuat kebijakan yang pada intinya membatasi atau bahkan menghentikan pembangunan sarana seperti hotel, mall, dan universitas di jakarta (bahkan jabodetabek). Diharapkan kemacetan akan berkurang perlahan seiring berjalannya waktu.

In my opinion


Menurut saya pribadi, saya sangat setuju dengan opini tersebut. Memang terdengar ribet, rumit, complicated, dsb, namun adalah keputusan yang berani jika bangsa kita benar-benar dapat merealisasikannya. Saya harap indonesia bisa berubah ke arah yang lebih baik.